Titipan
Melintasi lapangan rumput persis lurus berhadapan dengan ruang kerja saya di kantor adalah bagian belakang bangunan sebuah kelompok bermain dan taman kanak-kanak. Setiap pagi dari hari Senin sampai dengan Jum'at, suara anak-anak berteriak, tertawa, dan menangis diselingi suara sabar dari ibu guru dan pengasuh mengisi jam-jam kerja saya di antara berbagai lagu dan suara penyiar dari radio saya.
Yang selalu membuat ikut gembira pastilah kalau mendengar suara anak-anak bermain dan tertawa. Dari kursi tempat duduk, saya bisa membayangkan anak-anak itu sedang bergembira mengeksplorasi dunianya. Tapi hidup tidak selalu berisi hal-hal yang menyenangkan dan menggembirakan. Terselip di antara suasana ceria itu hampir setiap hari adalah suara tangisan satu-dua anak yang biasanya lama baru akan berhenti. Saya mengira mereka sedang tidak betah berada di tempat itu atau sedang kangen kedua orang tuanya. Kalau sudah begitu saya biasanya akan mengeraskan volume radio saya supaya tidak harus mendengar suara tangisan yang membuat saya sedih.
Saya mengamati taman bermain biasanya juga adalah tempat menitipkan anak-anak, mulai dari usia bayi sampai jenjang taman kanak-kanak. Populer dikenal dengan sebutan day care, jasa pelayanan ini menjadi kebutuhan utama ibu-ibu bekerja yang harus meninggalkan anak-anaknya di jam kerja panjang mereka. Saya sendiri pernah melakukan ini waktu pengasuh anak saya minta ijin satu minggu tidak masuk karena ada keperluan di rumahnya. Waktu itu anak saya yang kedua berusia 3 tahun. Saya beruntung sampai kedua anak saya berusia sekitar 7 tahun bisa tinggal di mess kantor, jadi saya selalu bisa menengok anak-anak di antara jam kerja saya. Maka ketika saya harus menitipkan di TPA (Tempat Penitipan Anak) yang jauh dari kantor, ada perasaan tidak tega dan bersalah, tapi waktu itu tidak ada pilihan lain.
Sampai sekarang saya sendiri masih belum menemukan jawaban yang paling memuaskan, apakah lebih baik mengasuh anak sendiri atau dititipkan kepada orang lain? Orang lain di sini bisa dari lingkungan keluarga terdekat seperti ibu atau adik dari suami atau istri, pengasuh atau babby sitter, atau dititipkan di day care? Untuk saya sendiri, sering terpikir, rasanya memang aneh bahwa saya bekerja mencari uang untuk membayar orang yang mengasuh anak saya. Kenapa tidak berhenti bekerja saja dan mengasuh anak sendiri? Pertanyaan yang belum bisa saya jawab dengan baik sampai hari ini.
Sambil berharap tangisan salah seorang anak yang terdengar begitu keras bisa segera reda, saya percaya bahwa orang tua dan para pengasuh dari anak-anak di taman bermain tetangga kantor saya ini sedang mengusahakan yang terbaik untuk anak-anak yang dititipkan kepada mereka.
"I blinked and they were grown."
So, I hope to also say,
"But, I saw it all, I soaked it in.
I was there for it.
And it was great."
Comments
Post a Comment