Tiga Botol Bir
Sebagai koordinator kursus, tugas saya adalah memastikan kelancaran jalannya kursus. Dan itu bisa berarti apa saja. Pagi tadi peserta yang dibagi menjadi 4 kelompok melaksanakan shooting film pendek mereka. Begitu datang saya langsung membantu mencetak naskah dan breakdown script yang berfungsi sebagai guiding supaya shooting bisa berjalan efisien.
Sementara masih mencetak naskah, karena ada 4 kelompok produksi, seorang frater datang menanyakan botol untuk property yang diperlukan untuk naskah film pendeknya. Botol yang diminta botol bir, jumlahnya 3. Saya langsung ingat ada 3 botol bir di rumah. Selesai mencetak, saya langsung pulang ke rumah untuk mengambil dan membawa ke-3 botol itu ke kantor.
7 tahun yang lalu di Daerah Istimewa Yogyakarta, terbit peraturan pembatasan penjualan minuman beralkohol di mini market. Sejak keluarnya peraturan itu cukup sulit untuk bisa membeli bir, padahal kalau ada acara di kantor, bir selalu ada untuk "happy hour". Saya pernah mencoba mencari beberapa kali tapi memang tidak semudah dulu karena hanya minimarket tertentu yang mendapat ijin untuk menjualnya. Pasti ada maksud baik dari terbitnya peraturan itu walaupun segera sesudah terbit, banyak pihak yang protes menentang.
Lama tidak mengikuti perkembangan peraturan tentang miras (minuman keras) karena tidak pernah harus menyediakan bir lagi, malam tahun baru kemarin, anak laki-laki saya merayakan bersama suami saya dengan minum bir berdua. Saya memang tidak bisa ikut menikmati birnya tetapi tetap beruntung karena bisa menikmati botol kosongnya yang berguna untuk property shooting film pendek.
And...action!
Comments
Post a Comment