The Notebook

Di bulan Desember 2021 yang lalu saya menonton lagi film "The Notebook" yang diangkat dari novel karya Nicholas Spark dengan judul yang sama. Sebuah film drama percintaan romantis yang berkerangka cerita penyakit alzheimer yang dialami tokoh utamanya.  Membaca novel dan menonton filmnya adalah dua pengalaman yang berbeda, tetapi keduanya mengajak saya untuk memperhatikan khusus tentang penyakit alzheimer.

Membaca buku dan menonton film tentunya juga berbeda dengan bertemu langsung dengan seseorang yang mengalami alzheimer demensia atau yang sering juga disebut  pikun.  Pagi tadi saya mendapat tugas untuk mewawancarai seorang narasumber untuk sebuah program profil lembaga. Sebelum berangkat, saya sudah mendapat pesan bahwa bapak narasumber sudah tidak ingat banyak hal, maka beliau akan bersama dengan istrinya ketika dishooting wawancaranya. Saya berdiskusi dengan teman yang menjadi penata kamera, dan kami sepakat untuk mengurangi pertanyaan dan lebih meminta bapak tersebut bercerita apa yang diingatnya. 

Proses wawancara berlangsung lancar, kami sangat terbantu dengan istri dari bapak narasumber yang ikut menjawab 3 pertanyaan dengan cerita yang lengkap. Sebetulnya, kalau dipikirkan kembali, bahkan bagi seseorang yang tidak menderita penyakit demensia alzheimer, pasti  cukup susah mengingat cerita dari 30 tahun yang lalu dengan terperinci. Maka saya merasa bersyukur bahwa untuk pertanyaan yang penting, bapak narasumber bisa menjawab walaupun dengan 2 patah kata saja tetapi itu adalah inti jawaban yang diperlukan program ini. 

Di perjalanan pulang dari shooting saya sempat berpikir bagaimana kalau nanti saya mengalami pikun. Sekarang saja saya sudah mulai sering lupa menaruh barang-barang. Teman saya yang penata kamera menghibur saya dengan mengutip apa yang dikatakan istri dari bapak narasumber untuk menyeimbangkan antara kerja pikiran dan kerja fisik. Perkataan teman saya ini membuat hati saya cukup tenang. Tetapi yang lebih menguatkan saya adalah salah satu ayat di Kitab Suci yang saya baca kemudian:

Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.
Yesaya 46:4



Comments

Post a Comment