Teman Seperjalanan
Sejak rutin berjalan kaki pagi hampir 1,5 tahun ini, saya menemukan teman serperjalanan. Rumah saya teletak di sebuah kampung di mana sawah dan ladang masih banyak terbentang di sela-sela rumah asli dan rumah pendatang. Rute saya berbentuk persegi panjang sejauh 3500 langkah untuk mengelilingi sawah dan ladang tersebut dengan pemandangan pedesaan yang indah dan khas yang saya sukai.
Saya biasa berjalan kaki antara pukul 5 - 6 pagi. Kalau saya keluar dari rumah saya jam 5.30, di ujung gang, saya akan selalu bertemu dengan sepasang suami istri yang selalu berpakaian hitam. Mereka berdua adalah tetangga kantor saya yang memiliki rumah sekaligus kantor yang asri karena sang suami adalah seorang arsitek. Yang khas dari pasangan ini adalah mereka akan mengobrol sepanjang mereka melakukan rutinitas jalan pagi. Sang suami bercerita banyak hal ditimpali komentar pendek-pendek dari sang istri. Mereka terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka. Kami biasanya akan saling mengganggukkan kepala ketika pas berpapasan.
Selang 10 menit ketika sampai di jalan beraspal yang menanjak, saya pasti akan bertemu dengan seorang ibu yang berjalan kaki seorang diri. Yang menarik dari Ibu ini adalah kostum yang dia kenakan. Ibu ini sangat modis dilihat dari penampilannya yang selalu serasi antara sepatu dengan baju dan hijab yang dia pakai. Jadi kalau sepatunya kuning maka selalu ada warna kuning di bajunya atau di hijabnya. Demikian juga jika sepatunya merah, maka ada bagian dari pakaiannya yang pasti berwarna merah. Selain ciri khas outfitnya begitu istilah kerennya sekarang, Ibu ini selalu memakai headphone yang dihubungkan ke handphonenya. Ketika berpapasan saya akan mendengar sayup-sayup lagu dangdut klasik. Sama seperti dengan pasangan suami istri berkostum hitam, kami biasa saling menyapa dengan mengganggukkan kepala.
Satu lagi yang akan saya temui adalah seorang Ibu berumur 70 tahun yang masih kuat berjalan sendiri. Kadang-kadang ada kenalannya yang lewat di jalan itu dan biasanya mereka lalu berhenti untuk mengobrol. Yang menarik dari Ibu ini adalah, saya sering melihat Ibu ini berhenti ngobrol dengan beberapa orang kenalan yang ditemuinya. Dengan suaranya yang keras, Ibu ini sering memulai ceritanya dengan kalimat ini, "Saya tidak bermaksud sombong ya kalau saya cerita tentang ini..." (saya terjemahkan dari Bahasa Jawa tentunya). Tanpa bermaksud "kepo" karena toh suaranya terdengar jelas dari jarak yang cukup jauh, Ibu ini sering menceritakan hal-hal yang dimaksudkan sebagai nasehat kepada yang mendengar. Yang paling utama saya ingat adalah, jagalah harta benda anda dengan baik, jangan sombong kalau kaya, tetap hidup sederhana.
Setelah 20 menit berjalan saya akan sampai di sebuah warung yang menjual sayur-mayur, sembako, buah-buahan, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Mbak Kris dan Pak Yono, nama pemilik warung ini, sangat ramah. Warung mereka selalu ramai ketika pagi hari dengan ibu-ibu yang berbelanja. Saya sendiri biasanya berbelanja 3 x seminggu sesuai jadwal memasak saya. Di warung ini, sambil memilih barang-barang belanjaan saya, saya akan mendengar banyak informasi terbaru tentang situasi di kampung. Percakapan ibu-ibu ini tentunya dalam bahasa Jawa yang bagi telinga saya terdengar menyenangkan.
Sehabis berbelanja, saya akan berjalan pulang dan biasanya saya tidak akan bertemu pejalan kaki lain. Saya beruntung karena kampung saya bukanlah kampung yang ramai lalu-lintasnya. Sepanjang berjalan kaki pagi saya hanya akan berpapasan dengan 1-2 motor atau mobil. Perjalanan pulang ini menjadi kesempatan bagi saya untuk mulai memastikan rencana kerja selama 1 hari. Begitu sampai di rumah, saya kemudian akan disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah dan kemudian berangkat ke kantor.
30 menit bersama pejalan kaki yang tidak saya kenal tetapi mereka adalah teman seperjalanan saya setiap hari. Saya selalu tidak sabar untuk bertemu mereka kembali keesokan harinya.
An early-morning walk is a blessing for the whole day - Henry David Thoreau
indeed YNWA
ReplyDelete