Seratus sebelas kata
KERJA
Ketukan di pintu semakin bertambah keras bercampur dengan teriakan, “Wawannnn…bangun!!! Jangan enak-enakan saja, mandi, lalu cepat pergi cari kerja!”
Di depan pintu kamarnya yang masih tertutup, Wawan tegak berdiri, jantungnya berdetak sangat cepat dan tangannya terkepal. Sekuat tenaga Wawan berusaha menahan kemarahannya. Kegembiraan lulus ujian skripsi begitu cepat berlalu berganti dengan tuntutan ayahnya agar ia segera bekerja.
---
Lampu lalu lintas berubah hijau. Di antara mobil dan motor yang mulai bergerak, seorang pengamen berkostum badut cepat-cepat menepi dan segera melepas topeng yang membuatnya merasa pengap tercekik. Tangannya yang satu masih memegang kaleng berisi uang receh dan lembar-lembar ribuan, ketika sebuah suara yang sangat ia kenal berteriak, “Wawannnn…!!Kamu memang anak sial!!!”
Lewat seratus sebelas kata saya menuliskan pemandangan yang sering saya jumpai setahun yang lalu di perhentian lampu lalu lintas di jalan-jalan raya di Sleman dan kota Yogya. Sekarang sudah semakin jarang terlihat, semoga itu pertanda yang baik.
Catatan: tulisan ini sudah dimuat di antologi.
Comments
Post a Comment