Sekolah Untuk Hidup

Beberapa tahun yang lalu, saya membuat program video tentang Hari Pangan Sedunia. Yang menarik dari setiap proses produksi video adalah kesempatan untuk belajar hal-hal baru. Untuk program video ini saya bisa mengunjungi sebuah tempat yang mengesan.

Terletak cukup jauh dari Yogyakarta di tempat yang cukup terpencil, ada sebuah sekolah yang istimewa. Saya sebut istimewa karena sekolah ini berada di atas sebuah bukit dengan bangunan kelas yang terletak di tengah kebun-kebun yang ditumbuhi  berbagai jenis tanaman.

Anak-anak yang belajar di sekolah ini sangat beruntung karena mereka mendapat kesempatan yang sangat cukup untuk membangun relasi dengan bapak-ibu gurunya. Sekolah ini adalah sekolah dasar yang di setiap kelasnya  jumlah muridnya berkisar antara  4 - 6 orang. Betapa mewahnya! Pastilah  setiap murid akan mendapat perhatian yang berlimpah dari bapak dan ibu gurunya  bila kita bandingkan dengan sekolah yang pada umumnya berisi 25 - 30 murid per kelasnya.

Pengalaman mengikuti kegiatan belajar-mengajar selama satu hari di SD tersebut mengajak saya untuk menghargai semangat dari bapak dan ibu guru yang mencoba untuk tidak menjauhkan anak-anak dari realitas kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini dilakukan lewat kegiatan-kegiatan sederhana seperti megusahakan kebersihan lingkungan sekitar oleh mereka sendiri. Ada murid yang mencuci piring gelas, menyapu halaman, membersihkan papan tulis, meja dan bangku di kelas. Ini adalah pekerjaan yang akan mereka temui di sepanjang hidup mereka.

Selain merawat kebersihan lingkungan, kekhasan utama dari sekolah ini adalah mengajak anak-anak untuk berkebun sebagai kegiatan harian di antara kelas-kelas mata pelajaran wajib yang harus mereka ikuti. Anak-anak ini berasal dari lingkungan di sekitar sekolah yang terletak di daerah pertanian dan perkebunan. Maka agar mereka tidak tercerabut dari akar mereka, sekolah ini mengajak anak-anak untuk mencintai dunia keseharian mereka dengan mengolah dan merawat bumi. Tidak hanya terbatas pada tanaman saja, mereka juga memperhatikan hewan yang ada di sekitar mereka. 

Ketika kami shooting, ada seekor burung, yang selama ini dipelihara salah seorang murid, mati karena sakit. Bersama-sama, anak-anak membuat acara menguburkan burung itu, mendoakan dan memberi kembang di atasnya. Satu kebiasaan sederhana yang mengajak anak-anak untuk mencintai seluruh ciptaan.

Yang tentu juga mengesan adalah ketekunan dan kesabaran bapak dan ibu guru yang mendampingi anak-anak. Ibu kepala sekolah sempat  bercerita bahwa komputer sekolah mereka diambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab yang akhirnya mereka ketahui siapa orangnya. Alih-alih mengurusnya ke yang berwenang, mereka membiarkan kejadian itu berlalu, dan entah bagaimana lalu ada sumbangan komputer baru. Saya hanya bisa tertegun waktu mendengar cerita itu.

Apa kabar di sana? Semoga suatu kali saya bisa datang lagi untuk melihat kebun-kebun buah dan sayur anak-anak.



 

Comments

  1. mungkin menarik kalau ada penelitian apakah anak2 ini terus mengembangkan semangat cinta lingkungan setelah lulus dari sekolah tsb

    ReplyDelete

Post a Comment