Memento

Mulai Senin kemarin saya berangkat berjalan kaki lebih pagi. Udara lebih dingin, suasana masih gelap dengan lampu-lampu  yang masih bernyala dan jalanan yang lebih lengang. Tetapi tetap satu dua orang yang berpapasan jalan, menyapa saya dengan senyuman mereka. 

Entah kenapa saya tiba-tiba teringat pengalaman saya berjalan kaki di sebuah tempat yang jauh dari rumah. Tahun 2008 saya bertugas mewakili kantor untuk sebuah LSM Internasional di 6 distrik di Nanggroe Aceh Darussalam. Untuk transportasi sehari-hari, disediakan mobil yang bisa mengantar kami dari mess ke kantor atau ke tempat lain dengan terlebih dahulu melaporkan jadwal kami sebelumnya kepada penanggung jawab program dan transportasi. 

Saya menjadi semacam koordinator untuk tugas ini dan bertanggung jawab untuk beberapa kelompok yang bergantian berangkat sesuai dengan jadwal yang sudah disepakati bersama. Ada seorang teman yang selalu berangkat bersama karena kami berdua tim inti.  Teman saya ini unik dan sering punya ide yang agak "ajaib".  

Di keberangkatan kelompok yang kedua, pada suatu hari, ketika pekerjaan kami sudah selesai di kantor dan berencana pulang, tiba-tiba teman saya yang unik ini mengusulkan untuk berjalan kaki sampai ke mess. Jarak dari mess ke kantor memang tidak terlalu jauh dan kami sudah mulai hafal dengan rutenya. Saya sendiri sebetulnya agak keberatan dengan usul ini karena waktu pulang ini sekitar jam 12 siang dan cuaca cukup panas di Banda Aceh. Selama hari-hari saya di Banda Aceh, saya selalu berkeringat sampai baju saya basah.  Tapi keberatan saya tidak didengar karena kemudian kami berempat akhirnya berjalan kaki menuju mess. Saya perempuan sendiri.  Tiga orang teman saya adalah 2 bapak-bapak dan 1 masih bujang. 

Mulailah kami berjalan kaki, tetapi karena trotoar tidak cukup lebar, jadilah kami berjalan beriringan seperti orang-orang yang berjalan di pematang sawah. Banda Aceh termasuk kota yang ramai dengan lalu-lintas yang cukup sibuk. Berbagai kendaraan lalu-lalang mendahului kami yang kepanasan berjalan kaki. Akhirnya, kami sampai di mess setelah berjalan kaki sekitar 20 menit. Beruntung mess kami dilengkapi dengan AC sehingga kami bisa langsung mendinginkan diri. Kami tinggal di mess yang berbeda, saya ditempatkan di mess perempuan.

Pengalaman yang tidak terlupakan, tapi lama setelahnya ketika saya ngobrol dengan teman saya yang unik itu, dia mengatakan bahwa sebetulnya berjalan kaki bukanlah hal yang umum dilakukan di Banda Aceh. Jadi sebetulnya ketika kami beriringan berjalan kaki, kami menyediakan diri kami untuk menjadi pemandangan yang aneh dan bisa jadi juga dibicarakan banyak orang. Kami memang tidak mendapat komentar dari staff di lembaga internasional tempat kami bekerja tapi sekali itu saja kami berjalan kaki. 

Satu kenang-kenangan dari NAD.


Comments

  1. I read that the name NAD was changed to Aceh in 2009. But indeed it was NAD when you were there

    ReplyDelete

Post a Comment