Masih Ada dan Berkobar
Sejak pandemi covid-19 menyerang dunia, satu-satunya hal yang bisa saya lakukan adalah patuh menjalankan protokol kesehatan. Sangat sederhana memang tapi pada saat itu belum terpikir hal lain yang bisa saya lakukan untuk membantu pencegahan semakin tersebarnya virus covid-19.
Langkah kecil saya dan keluarga lewat tindakan sederhana ini membuahkan hasil. Sampai hari ini kami berempat masih dikaruniai kesehatan yang baik walaupun karena pekerjaan kami masing-masing harus tetap berinteraksi dengan banyak orang. Di pertengahan tahun 2020 bahkan saya harus beberapa kali melakukan perjalanan ke rumah di Cirebon karena Ibu dirawat di rumah sakit akibat jatuh dan terkena stroke. Ibu akhirnya pergi pada tanggal 4 Oktober 2020. Saya sedih sekali tetapi juga bersyukur karena beberapa kali boleh menemani Ibu karena ada kesempatan untuk bisa ke Cirebon karena hari kerja di kantor hanya 6 hari dalam 1 bulan. Sementara suami saya, yang di awal pandemi mengajar daring dari rumah, akhirnya harus datang ke sekolah karena proses belajar-mengajar di sebuah sekolah kejuruan tidak bisa hanya belajar teori tanpa masuk ke bengkel kerja. Praktik sangat diperlukan supaya ketrampilan menggunakan alat dan mesin bisa dipelajari langsung agar ada persiapan yang baik untuk masuk ke dunia kerja.
Satu setengah tahun bukan waktu yang pendek, pandemi covid-19 malah semakin memburuk. Di tengah situasi ini, saya mulai berpikir untuk tidak hanya berjuang sendiri dengan taat prokes. Itu baik tetapi harua ada hal lain yang lebih besar yang bisa saya lakukan untuk berperan aktif. Saya ingin melakukan sesuatu yang lebih besar yang berguna bagi banyak orang.
Seperti menjawab harapan saya di awal bulan Juli 2021, saya mendapat tugas untuk mengurus shelter isolasi mandiri di kantor. Kamar-kamar yang biasanya digunakan untuk kegiatan pelatihan internal lembaga kami maupun berbagai lembaga untuk beragam kegiatan baru saja direnovasi. Pandemi covid-19 membuat kamar-kamar dan ruang pertemuan hanya tertinggal kosong sepi tanpa pemakai…
Saya bertugas sebagai narahubung dan koordinator di shelter. Saya belajar banyak hal baru dalam tugas ini. Karena ini adalah shelter isolasi mandiri, maka fokusnya adalah menjaga kesehatan OTG (Orang Tanpa Gejala). Di shelter tidak ada dokter atau perawat yang bertugas datang langsung, semua komunikasi dengan para pasien dilakukan melalui kelompok percakapan berbasis aplikasi WA.
Setiap pagi dan sore, kami meminta “isomaners”, demikian kami menyebut OTG untuk memberi laporan tentang tanda-tanda vital mereka. Dari catatan ini, dokter akan merekomendasikan hal-hal yang harus dilakukan.
Saya sungguh awam dengan hal-hal yang berkaitan dengan dunia medis. Maka betapa paniknya saya ketika seorang isomaner melaporkan tanda vital saturasi di bawah angka yang seharusnya. Dokter yang berjaga pagi itu ingin supaya Yang bersangkutan mengulangi pengukuran. Dokter meminta saya untuk memberi informasi ini melalui japri WA. Saya menunggu 15 menit setelah mengirim pesan WA itu dan tidak ada jawaban, 20 menit kemudian, saya akhirnya menelepon tetapi tidak diangkat. Jantung saya berdegup kencang, berulang kali melihat layar telepon genggam berharap segera ada centang biru. Berbagai pikiran buruk muncul, jangan-jangan ini, jangan-jangan itu. Akhirnya saya bertanya pada dokter jaga apa yang harus saya kerjakan. Dokter dengan segera menyuruh seorang relawan untuk masuk ke shelter dan melihat kondisi Yang bersangkutan. Kami berangkat bersama, teman saya yang relawan memakai APD lengkap sementara saya menunggu di ruang khusus transit di zona hijau. Rasanya waktu seperti berhenti. Sampai akhirnya muncul tulisan di layar telepon genggam; “Ibu, maaf saya tertidur, tidak baca WA dan tidak dengar telepon dari Ibu. Saya akan ukur ulang saturasi saya, Bu” Waaaah…lega sekali rasanya.
Prinsip dasar yang harus kami patuhi dalam melakukan tugas sebagai relawan adalah kami harus sehat untuk mendukung mereka yang melakukan isolasi mandiri agar mendapat tempat yang nyaman, makanan yang cukup dan sehat, serta pengawasan dari tenaga kesehatan untuk bisa melewati masa-masa sulit selama 10 – 14 hari jangka isolasi mandiri mereka.
Shelter kami didukung oleh relawan yang terdiri dari para suster, frater, dan anak-anak muda mahasiswa-mahasiswi yang dalam keseharian membangun kebersamaan lewat komunikasi yang ramah dalam suasana santai gembira untuk saling mendukung, dan menguatkan agar kami bisa menjadi teman seperjalanan yang baik untuk proses isolasi mandiri dari mereka yang berada di shelter.
Selama 1 bulan (12 Juli – 16 Agustus 2021) shelter kami menerima 41 Orang Tanpa Gejala yang menjalani isolasi mandiri dengan baik. Komunikasi di kelompok percakapan WA terjalin dengan baik. Kami tidak pernah berjumpa tatap muka tetapi rasanya sudah saling mengenal lama. Ketika tiba waktunya mereka meninggalkan shelter, ada perasaan kehilangan yang membuat kami terharu. Setiap kali ada yang “lulus” dari shelter dan bisa pulang kembali ke rumah mereka, kami sungguh merasa senang.
Sehari sebelum hari peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia, shelter kami mengucapkan selamat pulang pada 2 isomaner terakhir. Rasanya campur aduk ketika akhirnya shelter kami ditutup tetapi yang paling memenuhi relung hati yang paling dalam adalah perasaan syukur dan haru. Kami bersyukur untuk pengalaman terbangunnya solidaritas dan kepedulian yang luar biasa dari begitu banyak orang yang dengan cepat membantu kami menyediakan berbagai macam kebutuhan yang diperlukan untuk kelancaran penyelenggaraan shelter shelter isolasi mandiri kami. Semangat saling berbagi dan peduli terhadap sesama masih ada menyala di antara kita. Ketika saatnya tiba, api itu dengan segera berkobar memberi terang dalam kegelapan. Semoga pengalaman berjalan bersama dalam pandemi covid-19 ini membantu kita untuk terus peduli kepada sesama kita dan menghargai kehidupan bersama.
Comments
Post a Comment