Ketinggalan Zaman?
Saya ingat dengan jelas salah seorang rekan kerja bertahun-tahun yang lalu pernah berkomentar begini, "Bu Elis ndak suka ikut mode ya Bu?" Waktu itu sedang "ngetrend" blouse a la cheongsams dan hampir semua perempuan yang saya temui memakai model ini dalam berbagai nuansa warna dan motif.
Saya tertawa dan tidak menjawab komentar itu. Yang berkomentar kemudian menjadi tidak enak pada saya karena dia merasa sepertinya mengejek saya. Saya sendiri tidak marah dan malahan merasa senang dengan komentar itu karena artinya rekan kerja saya itu memperhatikan keseharian saya. Memang akhirnya saya punya juga baju ini yang sayangnya tidak terlalu cheongsams, dan masa berlakunya nyaris habis karena sudah mulai muncul mode baju terbaru berikutnya.
Tidak hanya tentang pakaian, saya pernah diprotes anak saya karena ketika di sekolah Ibu gurunya bertanya siapa yang di rumah punya magic jar, hanya anak saya sendiri yang tidak bisa tunjuk jari karena memang di rumah saya belum membeli magic jar. Kejadian itu sudah berlalu 14 tahun yang lalu dan tetap sampai sekarang saya belum punya magic jar.
Ketika saya mulai rutinitas berjalan kaki di pagi hari, saya menentukan target setiap hari. Dari informasi yang saya baca di banyak artikel kesehatan, dalam 1 hari kita sebaiknya berjalan sampai 10.000 langkah atau sama dengan 8 kilometer.
Dengan usia saya yang tidak muda lagi, saya perlu mengukur kemampuan saya agar tujuan berolah raga tercapai, artinya badan saya sehat, tidak kecapekan, dan menghindar dari cedera.
Dengan pertimbangan itu, saya memilih 2 jenis olah raga, yang pertama adalah berjalan kaki sejauh 4.000 langkah. Untuk mencapai angka ini, pertama kali ketika saya memulai, saya berjalan sambil menghitung langkah kaki saya dalam hati dengan menggunakan ke-sepuluh jari saya. Satu jari untuk seratus langkah. Cara ini berhasil tetapi sepanjang jalan saya tidak bisa diajak ngobrol dan hanya bisa tersenyum ketika berpapasan dengan pejalan kaki lain yang menyapa saya. 4.000 langkah saya tempuh dalam waktu 40 menit kecepatan sedang. Patokan waktu ini saya pakai seterusnya, walaupun di hari-hari selanjutnya saya tetap menghitung manual untuk melatih konsentrasi saya.
Saya memutuskan untuk berlatih fisik paling tidak 1 jam dalam 1 hari, maka 40 menit berjalan kaki masih saya sambung dengan senam irama "Gemu Famire", "Poco-poco", "Dansa Tobelo", dan 'Sajojo" di rumah. Ke-4 senam irama ini sangat populer di segala kalangan di Indonesia. Untuk senam irama ini, saya dengan mudah bisa memilih di Youtube. Selama hampir 20 menit berikutnya, mulai dari senam pemanasan dan diakhiri dengan senam pendinginan sesudahnya, saya bersenam irama, bergembira bersama mereka yang ada di layar kaca. Rasanya saya menjadi bagian dari banyak komunitas senam irama ini.
Begitulah, saya ini memang "jadoel" alias ketinggalan zaman untuk beberapa hal tetapi "gaul" juga untuk beberapa hal yang lain.
And a lucky sixpence in your shoe."
Dikutip dari buku "Tahun-tahun Bahagia" karangan Laura Ingalls Wilder.
cukup kantongi HP mu saat jalan dan ia akan membantu mu menghitung langkah (dan jarak)...simple
ReplyDelete