Gambang Suling
Sudah hampir jam 12 malam, dari rumah saya masih jelas terdengar suara gamelan dari seberang Kali Boyong. Kelompok jathilan dari Desa Kancilan sudah beberapa waktu belakangan ini mulai berlatih lagi.
Bagi yang belum mengenal tari Jathilan, saya mengutip Kompas.com tanggal 19 Mei 2019: Jathilan adalah tarian tertua di tanah Jawa. Biasa sering disebut juga Jaran Kepang. Jathilan sendiri berasal dari dua kata dalam Bahasa Jawa, yaitu Jan yang artinya benar-benar dan thil-thilan yang berarti banyak gerak. Istilah ini umumnya lebih banyak digunakan oleh masyarakat di daerah Yogyakarta dan Jawa Tengah. Dalam tari Jathilan, para penari terlihat mempertontonkan banyak aksi yang menyimbolkan kegagahan seorang prajurit di medan perang. Mereka bergerak bak aksi menumpas musuh dengan pedangnya sambil menunggang kuda yang berderap kencang. Namun dalam aksinya, penari jathilan tidak menunggang kuda sungguhan, melainkan kuda tiruan yang terbuat dari anyaman bambu atau kulit binatang yang dibuat menyerupai kuda sunggguhan. Kuda ini kemudian disebut kuda kepang.
Para penari Jathilan umumnya tampil dalam riasan yang mencolok dan biasanya selalu menggunakan kaca mata hitam. Seseorang yang mengenakan pakaian dan dirias sebagai penari Jathilan, biasanya akan "manglingi" ini kata dari Bahasa Jawa yang berarti "tampak berbeda, membuat orang tidak mengenali mereka", padahal sehari-hari selalu kita bertemu mereka. Ketika mereka menari, gerakannya terlihat begitu dinamis, agresif, serta sangat gagah berani saat melawan musuh.
Pada umumnya tarian Jathilan dipertunjukkan di acara-acara khusus seperti hari ke-2 Lebaran, acara khitanan, atau hari-hari besar. Pertunjukan jathilan selalu mengundang banyak penonton dari berbagai kalangan. Karena biasanya berlangsung hampir 1 hari penuh, selalu berhenti sebelum adzan magrib, maka di arena tempat di mana pertunjukan berlangsung akan ada banyak pedagang kecil, entah berjualan makanan, minuman, bahkan juga mainan anak. Para pedagang kecil ini nampaknya sudah paham barang-barang yang akan menarik minat penonton karena selalu tersedia makanan favorit sesuai trend. Terakhir saya menonton jathilan, di dekat tempat saya duduk menonton, ada seorang ibu yang berjualan jajanan berupa tempura, sosis, dan nugget ala-ala, juga cireng, cimol, cilor, dan ci...ci... yang lainnya, lengkap dengan sambal dan saus yang menggoda mata. Untuk minuman, selain penjual es teh manis yang mainstream, pasti ada penjual pop-ice yang merayu untuk dibeli karena warna-warninya yang menarik mata kita, walaupun saya sendiri tidak yakin apakah perut saya akan aman-aman saja setelah membeli minuman ini. Tetapi rasanya tidak usah terlalu ruwet memikirkan apa yang tersedia di arena pertunjukan jathilan karena ini adalah hiburan rakyat kebanyakan yang tidak terlalu pusing soal kandungan gizi dan higienisitas makanan dan minuman yang dijual.
Tarian Jathilan dikenal sebagai tarian yang mengandung unsur magis. Dalam setiap pertunjukan tari Jathilan, tak jarang penari Jathilan dirasuki roh halus dan mengalami kesurupan. Ketika penari kesurupan mereka bisa melakukan hal-hal di luar kemampuan manusia pada umumnya seperti makan pecahan beling, mengupas kelapa, dan paling jelas adalah para penari ini kuat menari sampai 8 jam. Ketika seorang penari sedang mengalami kesurupan, maka ada seorang yang menjadi pawangnya yang akan menyadarkan mereka kembali dengan ritual khusus.
Tidak jarang bukan hanya penari saja yang kesurupan tetapi juga penonton. Mengapa bisa demikian? Saya sendiri punya perkiraan yang sederhana tentang ini. Musik tarian Jathilan memiliki irama yang secara terus-menerus mengulang pola yang sama. Ketika kita mendengar irama yang sama terus-menerus, ada saat di mana kita akhirnya bisa terlena, nah ketika terlena itu pikiran kita terlepas dari situasi nyata dan kita seperti masuk ke dalam frekwensi gelombang suara musik iringan tersebut. Pada saat itu kita bisa dikatakan sedang kesurupan dan bisa melakukan suatu gerakan atau aksi yang di luar kemampuan biasa manusia. Tapi...tapi ini teori orang yang sungguh awam dalam bidang musik, jadi tidak usah dianggap serius karena tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Gamelan Jathilan sudah tidak terdengar lagi, berarti saya sudah harus beristirahat. Sambil menulis blog ini, saya bersyukur bisa mendengar kembali latihan musik Jathilan. Hidup sudah mulai kembali berjalan seperti biasa, para pemusik Jathilan sudah bisa berkumpul kembali. Semoga situasi akan terus semakin membaik sehingga saya bisa membeli tempura ala-ala lagi...ehhh...
Gambang suling kumandang swarane
Tulat-tulit kepenak unine
Unine mung nrenyuhake
Bareng lan kentrung, ketipung, suling
Sigrak kembangane
sumber: Musixmatch
Interesting story
ReplyDelete