Kali Boyong

Kalau diingat-ingat perjalanan hidup saya sampai hari ini, berjalan kaki adalah bagian dari hidup saya. 

Saat bersekolah mulai dari sekolah dasar sampai SMA, selain naik becak, transportasi umum yang banyak digunakan di Cirebon, saya lebih sering berjalan kaki dari rumah ke sekolah dan sebaliknya. Melanjutkan kuliah di Yogyakarta, saya masih tetap sering berjalan kaki, baik ke kampus, ke Gereja, atau ke pusat perbelanjaan. Mendapat pekerjaan sebagai  guru di STM Pangudi Luhur Muntilan, sayapun berjalan kaki juga  kemana-mana di kota kecil yang nyaman dan  tenang itu. Ketika kemudian saya pindah bekerja ke Yogyakarta, saya pun berjalan kaki menuju ke kantor saya. 

Saya berjalan kaki untuk mencapai sebuah tempat. Jalur yang saya lalui pada umumnya adalah memang jalan yang dipakai untuk menuju ke tempat tersebut. Apakah ada jalur yang tidak umum? 

Tahun 2004, saya mulai menempati rumah saya sendiri yang berseberangan letaknya dengan kantor saya. Ada sebuah kali, namanya Kali Boyong yang menjadi batas rumah saya dan kantor. Kali Boyong sangat menyenangkan ketika musim hujan, airnya jernih mengalir terkadang akan banjir kalau curah hujan dari atas yaitu di daerah Kaliurang cukup tinggi. Di kondisi seperti itu, saya akan berjalan kaki melewati jalan umum untuk sampai ke kantor. Tetapi ketika airnya tidak terlalu tinggi  di musim hujan dan cenderung tidak ada ketika musim kemarau, saya akan menyeberanginya untuk mencapai kantor saya hanya dalam waktu 5 menit. Memakai sandal jepit dan kadang bercelana pendek dulu,  saya berjalan  pelan-pelan menginjak batu-batu di sungai yang terkadang kering atau tergenang air ketika habis hujan. 

Saya sangat menyukai air yang mengalir, hampir setiap kali sehabis hujan ketika arus Kali Boyong tidak begitu deras, saya akan berlama-lama merendam kaki saya sebelum akhirnya melangkah menuju ke kantor atau sebaliknya menuju ke rumah. Saya merasa tenang  ketika air membungkus kedua kaki saya. Ada  kesegaran yang mengalirkan semangat.

Di bulan-bulan tertentu, saya akan sering berpapasan dengan Ibu-ibu yang memakai caping sambil membawa keranjang di punggung. Ibu-ibu ini biasanya menyeberang kali Boyong sambil  mengobrol gembira dengan  suara yang keras.  Di sekitar rumah saya masih cukup banyak sawah tempat di mana  Ibu-ibu ini biasanya akan bekerja menanam dan memanen padi kalau sudah waktunya. Pada awalnya tidak ada yang istimewa dalam peristiwa ini, kami biasanya akan saling menyapa, menanyakan tujuan kami masing-masing, walaupun sebetulnya kami sudah saling tahu.  Selang beberapa waktu setelah perjumpaan yang berulang kali,  saya merasa bahwa sebetulnya saya tidaklah berbeda dengan Ibu-ibu yang bekerja di sawah ini atau Ibu-ibu pemulung yang membawa barang-barang tidak terpakai dalam karung tinggi yang dipanggul di punggungnya.  Memang kita berbeda dalam penampilan dan peralatan yang dibawa untuk bekerja, tapi tidakkah sesungguhnya kita sebetulnya sama-sama sedang memberikan diri untuk orang lain dan keluarga melalui pekerjaan yang kita lakukan?

Tahun 2010 perjalanan ke kantor menyeberang kali Boyong sama sekali berhenti ketika saya harus mengantar dan menjemput anak-anak saya ke SMP mereka yang berjarak 10 kilometer dari rumah. Sebelumnya ketika di SD yang jaraknya hanya 3 kilometer dari rumah, mereka ikut mobil antar jemput tetangga.

Memang di tahun-tahun terakhir sebelum saya naik motor, dua tiga kali saya sempat terpeleset dan harus berbasah-basah ketika menyeberang kali Boyong. Rasanya jengkel betul!! Tapi perjalanan menyeberang sungai menjadi bagian hidup saya yang seru dan indah untuk diingat-ingat dan setiap kali mengajak saya untuk bersyukur kepada Tuhan yang Maha Baik.

Walking is the only form of transportation in which a man proceeds erect - like a man - on his own legs, under his own power. There is immerse satisfaction in that. - Edward Abbey





 


Comments

Post a Comment